Dawainya
Tinggal Tiga
Dibalik gubuk kecapinya berdenting
Di malam hening, parau suara bias nestapa
Senandungkan lagu indah, sebelum mentari kembali
Meski besok pagi anakku akan bersenandung lagi
Senandungnya takkan sama seperti siang tadi
Sebab putus sudah satu tali kecapi
Tapi tak apalah, anggapnya, dengung kendaraan para pejabat
hadiahkan komposisi
2011
Lama
Tak Jumpa
Lama tak jumpa wahai pejabat tua
Dengan cerita berbuah asa, asa ku tentang bualan
murahan
Lama tak jumpa wahai pejabat tua
Dengan janji lahirkan asa, asa kami tentang sebuah
istana
Lama tak jumpa wahai pejabat tua
Dengan muak aku belalak perut buncit sebagaimana anak-anakku
Meski begitu ia tak sama, kami buncit karena derita
Bukan karena mamah hak rakyat
2011
Malaikat
Penjaga
Pada suatu pagi sebelum berangkat kerja kau
bertanya,
Siapa aku? Siapa kau?
Pada pagi itu pula dengan cepat aku jawab, kau
anakku, aku orangtua mu
Orangtua si kumal, nakal, setan kecil pembuat kesal?
Sungguh, aku takkan tega membohongi malaikat kecil
sepertimu
Kau terkekeh, hingga utarakan pertanyaannya lagi
Kau ayah atau ibu?
Aku bisa jadi keduanya, bisa satu, terserahmu
Kau terkekeh lagi, sementara aku hanya tersenyum
dalam kepahitan
Kau mulai menggerakkan bibirmu lagi, maka sebelum
kau bertanya
Baiknya ku sebutkan namaku : Jelata, panggil saja
begitu
Jika sungkan bibirmu menambahkan frasa di depannya
2011


