Terimakasih atas Kunjungan dari teman-teman semua ke blog saya ini. Jangan lupa tinggalin jejak di Buku Tamu, atau comment di tulisan, atau kalau boleh FOLLOW juga blog ini. Yang mau tukar link, tinggalin ja pesan di page Link Exchange. Bagi teman-teman yang ingin berbagi info, tulisan atau lainnya bisa hubungi admin via komen atau buku tamu. Satu lagi ni, mohon maaf kalau blog ini jarang update, lagi sibuk-sibuknya kuliah, Salam




Isi
Udah diisi ya? Makasi teman, oh ya admin minta bantuan recehnya buat uang warnet Klik iklan di atas yang dibawah judul ya teman Makasi banyak bantuannya Salam
Sebelum Menjelajah ya teman

Sabtu, 07 April 2012

Sajak-Sajak Lamaku



Dawainya Tinggal Tiga
Dibalik gubuk kecapinya berdenting
Di malam hening, parau suara bias nestapa
Senandungkan lagu indah, sebelum mentari kembali
Meski besok pagi anakku akan bersenandung lagi
Senandungnya takkan sama seperti siang tadi
Sebab putus sudah satu tali kecapi
Tapi tak apalah, anggapnya, dengung kendaraan para pejabat hadiahkan komposisi
2011

Lama Tak Jumpa
Lama tak jumpa wahai pejabat tua
Dengan cerita berbuah asa, asa ku tentang bualan murahan
Lama tak jumpa wahai pejabat tua
Dengan janji lahirkan asa, asa kami tentang sebuah istana
Lama tak jumpa wahai pejabat tua
Dengan muak aku belalak perut buncit sebagaimana anak-anakku
Meski begitu ia tak sama, kami buncit karena derita
Bukan karena mamah hak rakyat
2011

Malaikat Penjaga
Pada suatu pagi sebelum berangkat kerja kau bertanya,
Siapa aku? Siapa kau?
Pada pagi itu pula dengan cepat aku jawab, kau anakku, aku orangtua mu
Orangtua si kumal, nakal, setan kecil pembuat kesal?
Sungguh, aku takkan tega membohongi malaikat kecil sepertimu
Kau terkekeh, hingga utarakan pertanyaannya lagi
Kau ayah atau ibu?
Aku bisa jadi keduanya, bisa satu, terserahmu
Kau terkekeh lagi, sementara aku hanya tersenyum dalam kepahitan
Kau mulai menggerakkan bibirmu lagi, maka sebelum kau bertanya
Baiknya ku sebutkan namaku : Jelata, panggil saja begitu
Jika sungkan bibirmu menambahkan frasa di depannya
2011

Bala Tentara

(Ini cerpen lama saya, ketika mulai menggeluti dunia kepenulisan, pada saat itu saya merasa ini sudah bagus-bagus sangat cerpennya, nyatanya kalau dibaca lagi jadi malu.)
Apalah sebagian dari mereka yang lebih tua itu, adalah mereka yang hingar bingar, bak singa lapar yang mengamuk tatkala tak ada mangsa. Ada pula yang belagak kritis, mengkritik dan mengkritik hanya itu yang mereka bisa. Lain lagi yang diam, membatu tak bergerak, matanya terus menari-nari mengapresiasi, hanya memperhatikan tak mengambil tindakan.
            Lalu lihatlah para penerus,  pandanglah setiap pasang mata mereka, adalah mereka yang mempertihatikan kalian, mereka adik, anak, serta merta cucu kalian, yang menjadikan kalian panutan. Jelas mereka sangat bangga dan berdecak kagum hingga memuja kala angin membawa sepucuk kabar keberhasilan. Dan mereka yang begitu kecewa kala burung mengabarkan kegagalan, keterpurukan, keanarkisan, bahkan kebodohan yang sengaja atau tidak sengaja atas kalian.
            Tataplah barang sejenak pasang-pasang mata mereka. Lalu menyelamlah, adalah jelas guratan kekecewaan yang akan kalian dapati dalam hati mereka. Hati mereka yang tak ubahnya adalah bagian dari hati kalian, hati yang rapuh dan kini megerut-menciut, menunggu saat dimana ia akan larut dalam kesedihan, oh bukan, mungkin kebencian. Ah, detik waktu menghitung mundur, akan saat mereka tak lagi punya hati untuk merasa.
            Kini, mereka (para penerus) berjejer diatas tanah negeri ini dikala langit mulai memerah. Sedari fajar terbit hingga terbenam pula. Pernahkah barang sekali terbayang oleh kalian atas itu.

Kamis, 08 Maret 2012

Mamang

          Suli kembali terpekur di tepian pantai sebagaimana yang ia lakukan belakangan ini. Duduk bersila di bawah pohon kelapa, membiarkan angin berhembus membelai rambutnya yang bergelombang laksana ombak. Ia menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan-pelan, berusaha membuang gundah yang menjadi sekat berujung sesak di dadanya yang bidang. Kemudian ia melempar pandang pada matahari yang garang dibalik awan yang bergerombolan, pada ambai-ambai yang berjalan mereng, atau pada anak-anak yang bermain lompat tali dengan girang di bawah pohon pinus yang tak jauh dari tempat ia bersila dan tak luput lapau nasi Ni Sari. Semua orang menyibukkan diri, yang duduk bermenung hanya ia seorang, para nelayan tengah bercengkrama di lapau dengan ota mereka yang dinamis. Sesekali terdengar oleh Suli orang-orang itu berdiskusi soal politik, soal ekonomi, soal pasang naik yang membuat mereka tak bisa melaut, atau soal adat istiadat yang makin hari makin pudar. Hendak Suli menggabungkan diri kesana, ikut serta dalam ota lapau yang terdengar mengasyikkan, tapi ia telan saja inginnya itu. Suli tahu bahwa ia akan menjadi bulan-bulanan sindiran. Cukup sudah hal itu terjadi, sudah lelah ia. Sudah lama pula ia menasehati kakak perempuan dan kemenakannya agar menghentikan berbuat hal yang dapat mencemari nama baik kaum mereka, mencoreng nama Suli sebagai seorang mamak, tapi sudahlah dinasehati tidak berhenti jua.

Kamis, 26 Januari 2012

Malam di Rumah Singgah


Malam benderang kala kutemukan kau

Di persimpangan jalan ketika lampu lalu lintas padam

Rumah singgah tak bercahaya pada pertemuan

Hanya pancaran rekah merah rembulan

Menjamah wajah kusut lama tak senyum

Ayo, ayo, sedetik saja cukup, rayuku

Hingga kau menarik ujung bibirmu meski sampai kesan terpaksa

Buru-buru kau bertanya : sudah kembalikah anak-anakmu?

2011

Kesalahan Dalam Penulisan Dialog


Dialog dalam sebuah karangan fiksi berfungsi sebagai penggerak cerita selain berguna juga untuk memperkuat karakter tokoh dalam cerita. Selain itu, dialog juga dapat membuat cerita menjadi lebih dinamis. Dialog antar tokoh dalam cerita apabila dikemas bisa pula menjadi “cara halus” untuk menyampaikan pesan-pesan moral tanpa terkesan menggurui.

Berikut ini adalah beberapa kesalahan yang berhubungan dengan penulisan dialog:
1. Menulis dialog dengan kalimat-kalimat indah dan bersajak. Dialog semacam ini memang cocok bagi karakter tokoh yang memang suka berpantun, namun kurang tepat bila dikenakan pada tokoh yang hidup di lingkungan metropolitan yang berbicara serba ringkas dan cepat. Pelajaran pertama dalam membuat dialog adalah membuatnya tampak nyata seperti layaknya orang yang berbicara dalam konteks nyata. Untuk itu, penting kiranya bagi para penulis untuk aktif mendengarkan percakapan orang-orang serta dialek atau diksi apa yang sering diucapkan oleh orang-orang dengan suatu karakter tertentu. Perlu juga untuk melafalkan dialog Anda dengan suara keras untuk mengecek apakah dialog itu terdengar enak di telinga dan sudah seperti layaknya percakapan yang nyata.